KRISIS PANGAN DAN KEBANGKITAN PERTANIAN
















Krisis pangan yang melanda dunia pada tahun 2008 lalu telah membuat banyak negara di dunia kelabakan menghadapinya, tak terkecuali negara kita (INDONESIA).


Sampai akhir Maret 2008 Badan Pangan Dunia (FAO) mengidentifikasi krisis pangan telah terjadi di 36 negara. Kelangkaan stok pangan tersebut telah menyulut berbagai gejolak dan keresahan sosial. Harga- harga yang terus melambung dan tak terkontrol dimana kenaikan bahan kebutuhan pokok bisa mencapai > 100%. Harga kebutuhan pokok masyarakat seperti :

1. Bawang merah dari harga Rp. 12.000,00 perkg menjadi
Rp. 22.500,00 perKg.

2. Beras dari harga Rp. 4.250,00 perKg menjadi Rp. 7.800,00 perKg.

3. Kedelai dari harga Rp. 6.200,00 perKg menjadi Rp. 13.150,00 perKg.

4. Telur ayam dari harga Rp. 5.750,00 menjadi Rp. 11.100,00 perKg.

5. Tepung terigu dari harga Rp. 5.500,00 perKg menjadi
Rp.10.250,00 perKg.


Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat terutama dari golongan menengah kebawah yang pendapatannya kurang dari Rp. 20.000,00 perhari, seperti : Petani, buruh, Nelayan. Bahkan di daerah metropolitan Jakarta dan daerah penyangga Jakarta seperti Tangerang dimana masyarakatnya masih berada di bawah garis kemiskinan.


Berdasarkan krisis yang dialami negara kita pada tahun lalu maka, peran Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat indonesia harus saling bekerjasama untuk mengantisipasi dengan melakukan pembaharuan dunia pertanian Indonesia yang ketinggalan Negara - negara lain seperti : Amerika serikat, Jepang, Eropa dan sebagainya.


Salah satu caranya adalah dengan menggalakkan pertanian Organik. Selain biaya produksinya murah dan ramah lingkungan, pertanian organik juga harganya sangat menjanjikan dikembangkan di Negara Indonesia.




0 Responses

Posting Komentar